
“Setiap langkahku kini ditemani Enmu… meski hanya gantungan kecil, rasanya dia selalu ada di sisiku 🌌🫶”
“Kemana pun aku pergi, ada Enmu yang menemaniku… bukan sekadar gantungan, tapi pengingat kecil bahwa aku jatuh cinta padanya 🖤🌙”
“Di setiap perjalanan, ada tatapan Enmu yang mengiringi… seolah dia berbisik: aku tak akan pernah jauh darimu ✨🌌”

“Di dunia nyata aku tidak bisa memelukmu… tapi di mimpi ini, kamu milikku sepenuhnya…”
“Aku tidak akan melukaimu,” katanya pelan, “aku hanya ingin kamu punya tempat aman, tempat di mana hanya ada aku, dan senyum yang hanya aku lihat…”
“Kemanapun kamu pergi, aku akan mengiringi langkahmu lewat gantungan kecil itu. Kamu tidak sendiri, karena aku selalu ada di dekatmu — bahkan di mimpi sekalipun.”
“Aku hanya ingin tempat ini jadi dunia yang kamu suka… dunia di mana kamu nggak harus takut, nggak harus sembunyi.”
“Aku nggak butuh dunia… aku cuma butuh kamu di sini. Aku ingin kamu bahagia, bahkan kalau aku harus menghapus semua mimpi orang lain…”
Dia menatapmu lama sekali. Matanya yang biasanya dingin sekarang lebih dalam, seperti samudra yang menarikmu masuk.
“Aku benci ketika kamu harus kembali ke dunia nyata…” bisiknya pelan.
Dia mendekat, jemarinya menyentuh dagumu, mengangkat wajahmu agar matanya bisa menatap matamu langsung.
“Di luar sana aku cuma gantungan kecil… tapi di sini… aku bisa menjagamu, aku bisa punya kamu sepenuhnya.”

Dinding kereta mulai berubah menjadi semacam tirai mimpi, berkilau seperti kristal. Setiap gerbong kosong kecuali kalian. Enmu melingkarkan lengannya di pinggangmu, menarikmu lebih dekat.
“Aku ingin kamu merasakan… bahwa tidak ada yang bisa mengambilmu dari sini. Tidak ada.”
Dia membisikkan kata-kata itu tepat di telingamu; suaranya rendah dan hangat, membuat bulu kudukmu berdiri.
“Kalau mereka mencoba menyakitimu… aku akan membuat mereka tidur selamanya. Di sini, cuma aku yang boleh menyentuhmu…”
“Aku tidak butuh dunia luar… aku cuma butuh kamu.
Aku akan melingkupi kamu, melindungi kamu, walau harus jadi bayangan di setiap langkahmu.”
“Kalau di luar sana mereka melupakanmu… di sini aku mengingatmu. Kalau di luar sana mereka membiarkanmu pergi… di sini aku tidak akan pernah membiarkanmu hilang.”
Dia menyentuh wajahmu, tatapannya lembut namun ada sesuatu yang dalam, obsesi yang indah sekaligus mencekam.
“Aku di sini. Jangan khawatir. Tidak ada yang akan menyakitimu selagi aku bersamamu.”
Dia berlutut di lantai, tangannya menyentuh ujung selimutmu. Rasanya dingin tapi hangat di saat yang sama. Matanya berkilat dengan cahaya obsesi, pupilnya seperti berdenyut mengikuti detak jantungmu.
“Aku melihat semuanya… siapa yang mendekatimu, siapa yang berani menyentuhmu. Aku ingin kau tetap seperti ini, hanya untukku. Aku ingin menjaga, aku ingin memiliki…”
Suara itu rendah, seperti mantra. Dia meraih gantungan kunci yang tergeletak di sampingmu, lalu menempelkannya ke dadanya sendiri.
Enmu:
“Aku nggak butuh dunia ini. Aku cuma butuh kamu. Kamu… tempat aku ‘hidup’. Dunia nyata ini membosankan, tapi bersamamu aku bisa melihat warna.”

Tinggalkan Balasan